Sabtu, 19 Januari 2013

Cerita Cinta Pertama © 2011
Kisah ini dimulai ketika Luccia masih TK, mungkin bagi sebagian orang sangat tidak mungkin bahwa anak seusia Luccia saat itu sudah bisa merasakan hal yang di sebut cinta, walaupun ia sendiri belum menyadari hal itu saat itu. Tapi itulah yang terjadi. Luccia yang masih TK saat itu mulai memilki rasa ketertarikan untuk seorang teman kelasnya yang bernama Ander. Rasa itu berlanjut ketika Luccia sudah menjadi siswa SD. Tepat sekali, masih saja Luccia satu sekolahan bahkan satu kelas dengan Ander. Hal itu membuat Luccia kecil menjadi bahagia, walaupun saat itu ia tak mengerti tentang perasaan yang ia rasakan. Luccia kecil masih terlalu polos untuk mengerti tentang rasa cinta. Hampir tiap pulang sekolah Luccia selalu ikut pulang bersama Ander dan satu temannya yang bernama Evi. Dengan di jemput pulang oleh ayahnya Ander yang kala itu selalu membawa motor Vespa . Kebersamaan itu akhirnya pudar seiring Ander yang harus pindah sekolah mengikuti ayahnya. Hati Luccia sedih, tapi tak ada yang bisa dilakukan oleh Luccia kecil saat itu. Ia hanya bisa menatap kepergian Ander dari pintu kelasnya . Hari-hari Luccia mulai saat itu menjadi berbeda. Tak ada lagi Ander. Taka ada lagi jemputan vespa, hohoho .
Tak terasa masa-masa SD telah usai, kini saatnya Luccia kecil menjadi gadis remaja dengan masuk ke salah satu SMP yang masih saja berada di kawasan SDnya. Sebagian besar teman SD Luccia juga masuk bersama di SMP yang sama itu. Tiap ada waktu, Luccia masih saja terus mengingat dan terus berharap bisa bertemu lagi dengan Ander, pangeran masa kecilnya itu. Tanpa di duga-duga, saat memasuki semester 2 di kelas 1 SMPnya saat itu kedatangan murid baru. Rasa penasaran akan siapa murid baru itu membuat Luccia ingin segera masuk kelas dan melihat sosok murid baru itu. Sepintas dari kejauhan, Luccia seperti mengenal murid baru itu. Ada perasaan bahagia yang tiba-tiba saja muncul di hati Luccia ketika ia menyadari bahwa murid baru itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ander, pangeran masa kecilnya. Tak dapat terlukiskan lagi ketika Luccia dapat sekelas lagi dengan Ander. Luccia yang tlah beranjak remaja saat itu sudah menyadari perasaan yang dulu ia rasakan itu apa. Sekelas dengan Ander lagi saat kelas 1 SMP dan kelas 2 SMP dan lagi sekelas saat kelas 3, membuat Luccia semakin menyadari perasaannya. Tapi tak mungkin baginya untuk menyatakan perasaanya lebih dulu kepada Ander. Rasa gengsi terus menjadi-jadi dalam diri Luccia. Ia tetap bertahan tanpa memberitahu mengenai perasaanya itu kepada Ander. Hingga akhirnya Ander_lah yan menyatakannya terlebih dahulu. Memang terasa sangat lama bagi Luccia, tapi ia bersyukur bahwa Ander akhirnya bisa menyatakan perasaanya yang ternyata sama dengan perasaan yang Luccia rasa sejak dulu. Pernyataan cinta dari Ander saat itu sangat terasa lucu sekaligus menggetarkan hati Luccia . Tak terasa hari-hari Luccia bersama Ander mulai berjalan lagi, tapi tentu saja bukan hanya dengan status hanya sebatas sahabat, tapi status yang sangat menyenangkan hati Luccia “pacaran”. Dengan gaya pacaran anak SMP zaman itu, malu-malu tapi mau, hubungan cinta Luccia dan Ander tak berlangsung lama. Cinta itu runtuh seketika di tangan Luccia yang masih benar-benar mengidap penyakit krisis PD. Sekelas ketika itu menbuat Luccia merasa tak bisa jadi dirinya sendiri, hingga ia memutuskan berpisah. Ander terus saja mengiyakan keinginan Luccia itu. Hari-hari Luccia setelah itu mulai terasa biasa lagi. Sendiri tanpa Ander yang masih terus saja menguasai hati Luccia. Ander telah memulai kisah baru bersama teman sekelasnya yang tentu saja teman sekelas Luccia juga. Really sad , Luccia terus saja menebar senyum palsu ketika ia harus tanpa sengaja melihat Ander bersama pacar barunya. Tapi tak apa bagi Luccia, hanya dengan melihat Ander yang masih sangat ia cintai itu tersenyum, telah dapat membuat hati Luccia ikut bahagia.
Rasa cinta yang tak dapat lagi Luccia berikan untuk Ander yang telah di lepasnya itu, membuat hati Luccia yang mencoba untuk tegar menjadi hancur ketika skali lagi kenyataan hidup akan memisahkan dirinya dari cinta pertamanya itu. Setelah ujian akhir, dan ketika dinyatakan lulus, harusnya membuat siswa-bagi siswa menjadi senang. Tapi tidak bagi Luccia yang mengetahui bahwa Ander dan dirinya tak akan 1 sekolah lagi, tak akan sekelas lagi dan bahkan tak sekota lagi. Mungkin tak begitu yang di rasakan Ander . Acara perpisahan menjadi saat-saat terakhir Luccia bisa melihat Ander. Tanpa kata-kata perpisahan, akhirnya perpisahan yang menyakiti hati Luccia itu terjadi .
Masa-masa SMA adalah saat-saat Luccia sudah lebih bisa mengerti bagaimana cinta itu. Banyak kisah cinta mulai Luccia coba jalani, walaupun hati dan pikirannya masih tetap saja tertuju untuk Ander, yang tak Luccia tau bagaimana kabarnya saat itu. Saat itu masih zaman-zamannya Friendster. Lewat FS itulah akhirnya Luccia menjalin kontak lagi dengan Ander. Saling tukar-menukar nomor, membuat komunikasi semakin lancar. Hingga Luccia dan Ander memutuskan untuk menikah, hahaha, tentu saja bukan menikah, tapi pacaran lagi. Skali lagi kisah cinta yang mereka coba jalani dengan hubungan jarak jauh itu harus terhenti di tengah jalan. Lai-lagi karena pikiran pendek Luccia saat masih duduk di kelas 2 SMA itu. Luccia sungguh tak tahan dengan hubungan jarak jauh, yang tiap harinya menyiksa Luccia dengan rasa rindu yang berlebihan. Kandas di tengah jalan lagi, tapi tetap tak bisa merubah rasa cinta yang ada untuk Ander di hati Luccia. Kembali menjalani hari tanpa Ander lagi L. Walaupun begitu, komunikasi Luccia dan Ander masih terus ada. Begitu banyak kisah yang terukir dalam hidup Luccia setelah itu, tapi tetap saja tak berarti ketika di sandingkan dengan kisah cinta Luccia dan Ander. Tanpa terasa selesai sudah perjuangan di masa SMA. Ketika telah di umumkan lulus dan tinggal hanya menunggu pengumuman. Teman-teman SMP Luccia mulai merencanakan untuk mengadakan acara reuni SMP mereka. Tentu saja orang yang paling senang ketika mengetahui hal itu adalah Luccia. Karna artinya dengan akan diadakannya reuni, Luccia bisa bertemu kembali dengan Ander setelah sekian tahun terpisah.
Hari yang di tentukan pun tiba, Luccia mulai terserang penyakitnya lagi “krisis PD”. Ia ingin terlihat baik di mata teman-temannya apalagi di mata Ander. Hingga akhirnya Ander berada di samping Luccia saat itu. Betapa senang bercampur malu yang Luccia rasakan. Suasana terasa sangat kaku. Tak mampu Luccia menatap kearah Ander. Yang ada rasanya saat itu Luccia ingin berlari menuju tempat yang dapat menampakan bayangan Luccia, sungguh Luccia ingin berkaca, hahaha :D. Setelah acara ibadah dan ramah tamah selesai, teman-teman Luccia yang lain sungguh sedang sibuk-sibuknya mengabadikan moment-moment reuni itu dengan berfoto-foto ria. Tapi Luccia yang masih saja salah tingkah, memutuskan untuk mengikuti beberapa temannya berfoto di gedung lantai 2. Sambil terus memandang kearah lantai bawah, lapangan dan ruang-ruang kelas yang masih bisa terlihat dari lantai 2, Luccia mencari-cari keberadaan Ander dari tempat ia duduk, sayangnya tak terlihat. Tapi, tak beberapa lama kemudian, akhirnya Luccia mendapati Ander kini datang menghampirinya dan telah duduk bersama dirinya . Salah tingkah again.
Pertemuan saat acara reuni itu semakin membangkitkan cinta dalam hati Luccia, beruntung bagi Luccia sepertinya Ander juga merasakan hal yang sama. Sekali lagi mereka memutuskan untuk mengikat cinta mereka. Luccia yang sudah dewasa saat itu masih tetap saja mencintai pangeran dari masa kecilnya, Ander. Tak ada lagi alasan untuk berpisah saat itu. Namun takdir dan kebodohan Luccia masih tetap saja berjalan. Perpisahan kali ini membuat semua dalam kehidupan Luccia terasa lebih buruk dari saat-saat perpisahan sebelumnya. Ditambah lagi ketika Luccia mengetahui Ander akan pergi jauh dari hidupnya dari matanya dan mungkin juga dari hatinya. Seharusnya keberhasilan Ander menjadi sesuatu yang menyenangkan, jika saja Luccia tidak terkurung terus dalam kebodohan yang sepertinya terus ikut serta dalam setiap langkah perjalanan hidup Luccia. Bagaimana pun caranya dan bagaimana pun jalannya, Luccia kini harus skali lagi belajar hidup tanpa Ander. Setelah keberangkatan Ander, kini Luccia sendiri dan harus mencoba memulai kisah baru walaupun terasa sangat sulit bagi Luccia. Dengan statusnya sebagai mahasiswa kini Luccia mau tidak mau harus mulai disibukkan dengan berbagai rutinitas barunya. Mulailah Luccia di pertemukan dengan orang-orang baru, beberapa di antaranya ingin menjadi seseorang yang special di hati Luccia. Tapi tak semudah itu untuk mereka dapat menggantikan tempat Ander di hati Luccia. Luccia yang mulai menyadari betapa sepinya hidup tanpa ada Ander di hatinya mulai mencoba menjalin komunikasi lagi yang sempat terputus dengan Ander.Namun satu yang mengganjal di hati Luccia, masihkah Ander mengingat dirinya, setelah sekian lama tak ada komunikasi ? Tapi kerinduan yang ada di hati Luccia mengalahkan semua Tanya yang ada di dalam hati Luccia. Luccia sadar semua pertanyaan itu sudah seharusnya di jawab oleh waktu ketika waktu akan mempertemukan mereka lagi. Luccia yang dulunya adalah seorang anak kecil yang tak dapat berbuat apa-apa ketika ia merasa kehilangan, kini telah menjadi Luccia yang mengerti benar akan bagaimana harusnya ia bersikap ketika ia merasa berbuat kesalahan. Dan kesalahan terbesar yang Luccia lakukan saat itu adalah melepaskan Ander yang sangat ia cintai. Akhirnya ketika Luccia telah bisa menjalin komunikasi lagi dengan Ander, semuanya telah terasa berbeda. Entah karena perbedaan jarak dan waktu ataupun mungkin saja karena Luccia merasa ia tak lagi di hatinya Ander.
Betapa pun inginnya Luccia kembali seperti dulu lagi dengan Ander tapi semua itu sepertinya hanyalah angan-angan semu seperti fantasi seorang anak TK yang menginginkan pangeran yang akan menikah dengan dirinya saat dewasa nanti. Lambat laun Luccia dewasa menyadari, betapa tidaknya ia menjaga cinta yang tlah di anugrahkan pencipta berkali-kali. Tlah berkali-kali pula kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tlah di berikan. Kehilangan Ander sudah seperti kehilangan separuh dari hidup Luccia, mengingat Ander adalah cinta pertama di hati Luccia. Luccia menyadari betapa rumitnya cinta itu. Namun pada saat yang sama, cinta juga begitu sederhana. Ia adalah sesuatu yang menggetarkan hidup, bisa membuat tertawa, bisa membuat menangis, bahkan bisa membuat kuat sekaligus bisa membuat lemah.Terlepas dari semua kesedihan yang Luccia alami, Luccia selalu meyakini adanya rencana indah di balik semua kejadian yang ada dalam hidupnya. Luccia kini mulai berbenah diri, dan semakin mendekatkan diri kepada sang pencipta. Di saat yang sama, ketika Luccia memutuskan untuk menjadi lebih baik, sepertinya Tuhan menjawab semua pintah dan doa Luccia. Kehidupan Luccia menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Luccia akhirnya bisa dekat lagi dengan Ander. Walaupun kali ini tanpa status apa pun, Luccia tetap saja mencintai Ander seperti saat-saat sebelumnya. Cinta yang ada di dalam hati Luccia sudah tak bisa di ubah oleh siapa pun juga. Tak mengerti dengan apa sebenarnya yang tengah berlangsung, Luccia tetap saja menjaga hati untuk Ander seorang. Kata orang ketika ikatan cinta berakhir “life still goes on”. Namun bagi Luccia, mencintai Ander selalu adalah sesuatu yang sudah seperti rutinitas dalam kehidupan Luccia. Luccia tak perduli dengan kata orang lain, selama apa yang ia lakukan masih dalam batas kewajaran dan tak melanggar hak asasi orang lain. Berapa kali pun Luccia melakukan hal bodoh dengan melepas Ander pergi, tapi tidak begitu dengan hati Luccia, yang tetap mengikat Ander selamanya di hatinya.

Tidak ada komentar: