Cerita Cinta Pertama © 2011
Kisah
ini dimulai ketika Luccia masih TK, mungkin bagi sebagian orang sangat
tidak mungkin bahwa anak seusia Luccia saat itu sudah bisa merasakan hal
yang di sebut cinta, walaupun ia sendiri belum menyadari hal itu saat
itu. Tapi itulah yang terjadi. Luccia yang masih TK saat itu mulai
memilki rasa ketertarikan untuk seorang teman kelasnya yang bernama
Ander. Rasa itu berlanjut ketika Luccia sudah menjadi siswa SD. Tepat
sekali, masih saja Luccia satu sekolahan bahkan satu kelas dengan Ander.
Hal itu membuat Luccia kecil menjadi bahagia, walaupun saat itu ia tak
mengerti tentang perasaan yang ia rasakan. Luccia kecil masih terlalu
polos untuk mengerti tentang rasa cinta. Hampir tiap pulang sekolah
Luccia selalu ikut pulang bersama Ander dan satu temannya yang bernama
Evi. Dengan di jemput pulang oleh ayahnya Ander yang kala itu selalu
membawa motor Vespa .
Kebersamaan itu akhirnya pudar seiring Ander yang harus pindah sekolah
mengikuti ayahnya. Hati Luccia sedih, tapi tak ada yang bisa dilakukan
oleh Luccia kecil saat itu. Ia hanya bisa menatap kepergian Ander dari
pintu kelasnya . Hari-hari Luccia mulai saat itu menjadi berbeda. Tak ada lagi Ander. Taka ada lagi jemputan vespa, hohoho .
Tak
terasa masa-masa SD telah usai, kini saatnya Luccia kecil menjadi gadis
remaja dengan masuk ke salah satu SMP yang masih saja berada di kawasan
SDnya. Sebagian besar teman SD Luccia juga masuk bersama di SMP yang
sama itu. Tiap ada waktu, Luccia masih saja terus mengingat dan terus
berharap bisa bertemu lagi dengan Ander, pangeran masa kecilnya itu.
Tanpa di duga-duga, saat memasuki semester 2 di kelas 1 SMPnya saat itu
kedatangan murid baru. Rasa penasaran akan siapa murid baru itu membuat
Luccia ingin segera masuk kelas dan melihat sosok murid baru itu.
Sepintas dari kejauhan, Luccia seperti mengenal murid baru itu. Ada
perasaan bahagia yang tiba-tiba saja muncul di hati Luccia ketika ia
menyadari bahwa murid baru itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ander,
pangeran masa kecilnya. Tak dapat terlukiskan lagi ketika Luccia dapat
sekelas lagi dengan Ander. Luccia yang tlah beranjak remaja saat itu
sudah menyadari perasaan yang dulu ia rasakan itu apa. Sekelas dengan
Ander lagi saat kelas 1 SMP dan kelas 2 SMP dan lagi sekelas saat kelas
3, membuat Luccia semakin menyadari perasaannya. Tapi tak mungkin
baginya untuk menyatakan perasaanya lebih dulu kepada Ander. Rasa gengsi
terus menjadi-jadi dalam diri Luccia. Ia tetap bertahan tanpa
memberitahu mengenai perasaanya itu kepada Ander. Hingga akhirnya
Ander_lah yan menyatakannya terlebih dahulu. Memang terasa sangat lama
bagi Luccia, tapi ia bersyukur bahwa Ander akhirnya bisa menyatakan
perasaanya yang ternyata sama dengan perasaan yang Luccia rasa sejak
dulu. Pernyataan cinta dari Ander saat itu sangat terasa lucu sekaligus
menggetarkan hati Luccia .
Tak terasa hari-hari Luccia bersama Ander mulai berjalan lagi, tapi
tentu saja bukan hanya dengan status hanya sebatas sahabat, tapi status
yang sangat menyenangkan hati Luccia “pacaran”. Dengan gaya pacaran anak
SMP zaman itu, malu-malu tapi mau, hubungan cinta Luccia dan Ander tak
berlangsung lama. Cinta itu runtuh seketika di tangan Luccia yang masih
benar-benar mengidap penyakit krisis PD. Sekelas ketika itu menbuat
Luccia merasa tak bisa jadi dirinya sendiri, hingga ia memutuskan
berpisah. Ander terus saja mengiyakan keinginan Luccia itu. Hari-hari
Luccia setelah itu mulai terasa biasa lagi. Sendiri tanpa Ander yang
masih terus saja menguasai hati Luccia. Ander telah memulai kisah baru
bersama teman sekelasnya yang tentu saja teman sekelas Luccia juga.
Really sad , Luccia
terus saja menebar senyum palsu ketika ia harus tanpa sengaja melihat
Ander bersama pacar barunya. Tapi tak apa bagi Luccia, hanya dengan
melihat Ander yang masih sangat ia cintai itu tersenyum, telah dapat
membuat hati Luccia ikut bahagia.
Rasa
cinta yang tak dapat lagi Luccia berikan untuk Ander yang telah di
lepasnya itu, membuat hati Luccia yang mencoba untuk tegar menjadi
hancur ketika skali lagi kenyataan hidup akan memisahkan dirinya dari
cinta pertamanya itu. Setelah ujian akhir, dan ketika dinyatakan lulus,
harusnya membuat siswa-bagi siswa menjadi senang. Tapi tidak bagi Luccia
yang mengetahui bahwa Ander dan dirinya tak akan 1 sekolah lagi, tak
akan sekelas lagi dan bahkan tak sekota lagi. Mungkin tak begitu yang di
rasakan Ander .
Acara perpisahan menjadi saat-saat terakhir Luccia bisa melihat Ander.
Tanpa kata-kata perpisahan, akhirnya perpisahan yang menyakiti hati
Luccia itu terjadi .
Masa-masa
SMA adalah saat-saat Luccia sudah lebih bisa mengerti bagaimana cinta
itu. Banyak kisah cinta mulai Luccia coba jalani, walaupun hati dan
pikirannya masih tetap saja tertuju untuk Ander, yang tak Luccia tau
bagaimana kabarnya saat itu. Saat itu masih zaman-zamannya Friendster.
Lewat FS itulah akhirnya Luccia menjalin kontak lagi dengan Ander.
Saling tukar-menukar nomor, membuat komunikasi semakin lancar. Hingga
Luccia dan Ander memutuskan untuk menikah, hahaha, tentu saja bukan
menikah, tapi pacaran lagi. Skali lagi kisah cinta yang mereka coba
jalani dengan hubungan jarak jauh itu harus terhenti di tengah jalan.
Lai-lagi karena pikiran pendek Luccia saat masih duduk di kelas 2 SMA
itu. Luccia sungguh tak tahan dengan hubungan jarak jauh, yang tiap
harinya menyiksa Luccia dengan rasa rindu yang berlebihan. Kandas di
tengah jalan lagi, tapi tetap tak bisa merubah rasa cinta yang ada untuk
Ander di hati Luccia. Kembali menjalani hari tanpa Ander lagi L. Walaupun begitu, komunikasi Luccia dan Ander masih terus ada. Begitu
banyak kisah yang terukir dalam hidup Luccia setelah itu, tapi tetap
saja tak berarti ketika di sandingkan dengan kisah cinta Luccia dan
Ander. Tanpa terasa selesai sudah perjuangan di masa SMA. Ketika telah
di umumkan lulus dan tinggal hanya menunggu pengumuman. Teman-teman SMP
Luccia mulai merencanakan untuk mengadakan acara reuni SMP mereka. Tentu
saja orang yang paling senang ketika mengetahui hal itu adalah Luccia.
Karna artinya dengan akan diadakannya reuni, Luccia bisa bertemu kembali
dengan Ander setelah sekian tahun terpisah.
Hari
yang di tentukan pun tiba, Luccia mulai terserang penyakitnya lagi
“krisis PD”. Ia ingin terlihat baik di mata teman-temannya apalagi di
mata Ander. Hingga akhirnya Ander berada di samping Luccia saat itu.
Betapa senang bercampur malu yang Luccia rasakan. Suasana terasa sangat
kaku. Tak mampu Luccia menatap kearah Ander. Yang ada rasanya saat itu
Luccia ingin berlari menuju tempat yang dapat menampakan bayangan
Luccia, sungguh Luccia ingin berkaca, hahaha :D. Setelah acara ibadah
dan ramah tamah selesai, teman-teman Luccia yang lain sungguh sedang
sibuk-sibuknya mengabadikan moment-moment reuni itu dengan berfoto-foto
ria. Tapi Luccia yang masih saja salah tingkah, memutuskan untuk
mengikuti beberapa temannya berfoto di gedung lantai 2. Sambil terus
memandang kearah lantai bawah, lapangan dan ruang-ruang kelas yang masih
bisa terlihat dari lantai 2, Luccia mencari-cari keberadaan Ander dari
tempat ia duduk, sayangnya tak terlihat. Tapi, tak beberapa lama
kemudian, akhirnya Luccia mendapati Ander kini datang menghampirinya dan
telah duduk bersama dirinya . Salah tingkah again.
Pertemuan
saat acara reuni itu semakin membangkitkan cinta dalam hati Luccia,
beruntung bagi Luccia sepertinya Ander juga merasakan hal yang sama.
Sekali lagi mereka memutuskan untuk mengikat cinta mereka. Luccia yang
sudah dewasa saat itu masih tetap saja mencintai pangeran dari masa
kecilnya, Ander. Tak ada lagi alasan untuk berpisah saat itu. Namun
takdir dan kebodohan Luccia masih tetap saja berjalan. Perpisahan kali
ini membuat semua dalam kehidupan Luccia terasa lebih buruk dari
saat-saat perpisahan sebelumnya. Ditambah lagi ketika Luccia mengetahui
Ander akan pergi jauh dari hidupnya dari matanya dan mungkin juga dari
hatinya. Seharusnya keberhasilan Ander menjadi sesuatu yang
menyenangkan, jika saja Luccia tidak terkurung terus dalam kebodohan
yang sepertinya terus ikut serta dalam setiap langkah perjalanan hidup
Luccia. Bagaimana pun caranya dan bagaimana pun jalannya, Luccia kini
harus skali lagi belajar hidup tanpa Ander. Setelah keberangkatan Ander,
kini Luccia sendiri dan harus mencoba memulai kisah baru walaupun
terasa sangat sulit bagi Luccia. Dengan statusnya sebagai mahasiswa kini
Luccia mau tidak mau harus mulai disibukkan dengan berbagai rutinitas
barunya. Mulailah Luccia di pertemukan dengan orang-orang baru, beberapa
di antaranya ingin menjadi seseorang yang special di hati Luccia. Tapi
tak semudah itu untuk mereka dapat menggantikan tempat Ander di hati
Luccia. Luccia yang mulai menyadari betapa sepinya hidup tanpa ada Ander
di hatinya mulai mencoba menjalin komunikasi lagi yang sempat terputus
dengan Ander.Namun satu yang mengganjal di hati Luccia, masihkah Ander
mengingat dirinya, setelah sekian lama tak ada komunikasi ? Tapi
kerinduan yang ada di hati Luccia mengalahkan semua Tanya yang ada di
dalam hati Luccia. Luccia sadar semua pertanyaan itu sudah seharusnya di
jawab oleh waktu ketika waktu akan mempertemukan mereka lagi. Luccia
yang dulunya adalah seorang anak kecil yang tak dapat berbuat apa-apa
ketika ia merasa kehilangan, kini telah menjadi Luccia yang mengerti
benar akan bagaimana harusnya ia bersikap ketika ia merasa berbuat
kesalahan. Dan kesalahan terbesar yang Luccia lakukan saat itu adalah
melepaskan Ander yang sangat ia cintai. Akhirnya ketika Luccia telah
bisa menjalin komunikasi lagi dengan Ander, semuanya telah terasa
berbeda. Entah karena perbedaan jarak dan waktu ataupun mungkin saja
karena Luccia merasa ia tak lagi di hatinya Ander.
Betapa
pun inginnya Luccia kembali seperti dulu lagi dengan Ander tapi semua
itu sepertinya hanyalah angan-angan semu seperti fantasi seorang anak TK
yang menginginkan pangeran yang akan menikah dengan dirinya saat dewasa
nanti. Lambat laun Luccia dewasa menyadari, betapa tidaknya ia menjaga
cinta yang tlah di anugrahkan pencipta berkali-kali. Tlah berkali-kali
pula kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tlah di berikan. Kehilangan
Ander sudah seperti kehilangan separuh dari hidup Luccia, mengingat
Ander adalah cinta pertama di hati Luccia. Luccia menyadari betapa
rumitnya cinta itu. Namun pada saat yang sama, cinta juga begitu
sederhana. Ia adalah sesuatu yang menggetarkan hidup, bisa membuat
tertawa, bisa membuat menangis, bahkan bisa membuat kuat sekaligus bisa
membuat lemah.Terlepas dari semua kesedihan yang Luccia alami, Luccia
selalu meyakini adanya rencana indah di balik semua kejadian yang ada
dalam hidupnya. Luccia kini mulai berbenah diri, dan semakin mendekatkan
diri kepada sang pencipta. Di saat yang sama, ketika Luccia memutuskan
untuk menjadi lebih baik, sepertinya Tuhan menjawab semua pintah dan doa
Luccia. Kehidupan Luccia menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Luccia
akhirnya bisa dekat lagi dengan Ander. Walaupun kali ini tanpa status
apa pun, Luccia tetap saja mencintai Ander seperti saat-saat sebelumnya.
Cinta yang ada di dalam hati Luccia sudah tak bisa di ubah oleh siapa
pun juga. Tak mengerti dengan apa sebenarnya yang tengah berlangsung,
Luccia tetap saja menjaga hati untuk Ander seorang. Kata orang ketika
ikatan cinta berakhir “life still goes on”. Namun bagi Luccia, mencintai
Ander selalu adalah sesuatu yang sudah seperti rutinitas dalam
kehidupan Luccia. Luccia tak perduli dengan kata orang lain, selama apa
yang ia lakukan masih dalam batas kewajaran dan tak melanggar hak asasi
orang lain. Berapa kali pun Luccia melakukan hal bodoh dengan melepas
Ander pergi, tapi tidak begitu dengan hati Luccia, yang tetap mengikat
Ander selamanya di hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar